Rabu, 14 September 2011

Kain Sasirangn Menyimpan Banyak Makna

Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang,  kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.

Proses Pembuatan Kain Sasirangan
        Pertama menyirang kain, Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan motif-motif kain adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan jarang-jarang/renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit, ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya, sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk proses selanjutnya.

         Kedua penyiapan zat warna, Zat warna yang digunakan adalah zat warna untuk membatik. Semua zat warna yang untuk membatik dapat digunakan untuk pewarnaan kain sasirangan. Tapi zat warna yang sering  digunakan saat ini adalah zat warna naphtol dengan garamnya. Bahan lainnya sebagai pembantu adalah soda api (NaOH), TRO/Sepritus, air panas yang mendidih. Mula-mula zat warna diambil secukupnya, kemudian diencerkan/dibuat pasta dengan menambahkan TRO/Spirtus, lantas diaduk sampai semua larut/melarut. Setelah zat melarut semua, kemudian ditambahkan beberapa tetes soda api dan terakhir ditambahkan dengan air panas dan air dingin sesuai dengan keperluan. Larutan harus bening/jernih. Untuk melarutkan zat warna naphtol sudah dianggap selesai dan sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan.
 
        Untuk membuat warna yang dikehendaki, maka zat warna naphtol harus ditimbulkan/dipeksasi dengan garamnya. Untuk melarutkan garamnya, diambil sesuai dengan keperluan kemudian ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk kuat-kuat sehingga zat melarut semua dan didapatkan larutan yang bening. Banyaknya larutan disesuaikan dengan keperluan. Kedua larutan yaitu naphtol dan garam sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan, yaitu dengan cara pertama-tama mengoleskan/menyapukan zat warna naphtol pada kain yang telah disirang yang kemudian disapukan lagi/dioleskan larutan garamnya sehingga akan timbul warna pada kain sasirangan yang sudah diolesi sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah seluruh kain diberi warna, kain dicuci bersih-bersih sampai air cucian tidak berwarna lagi.
 
        Kain yang sudah bersih, kemudian dilepaskan jahitannya sehingga terlihat motif-motif bekas jahitan diantara warna-warna yang ada pada kain tersebut. Sampai disini proses pembuatan kain sasirangan telah selesai dan dijemur salanjutnya diseterika dan siap untuk dipasarkan.

English :
Sasirangan fabric which is a typical craft area of ​​South Kalimantan (Kalimantan) according to the local community elders, formerly used as a headband (Laung), as well as men wear belts as well as a shawl, scarf, or udat (tank) by women. The fabric is also a traditional dress worn in traditional ceremonies, and even used in the treatment of the sick. But this time, the fabric is no longer sasirangan allotment for the spiritual has become clothing for everyday activities, and it is typical clothing from South Kalimantan. In South Kalimantan, fabric craft sasirangan is one of the typical areas that need to be preserved and developed. The word "Sasirangan" comes from the word sirang (local language) which means tied or sewn by hand and pulled the thread or in terms of language sewing dismoke / dijelujur. If in Java called jumputan. Sasirangan fabric made using mori fabric, polyester sewn in a certain way. Then washed with a variety of desired color, resulting in a material fashion patterned with colorful stripes or motifs are charming.


Cloth Making Process Sasirangan
        
First menyirang fabric, fabric is cut sufficiently tailored clothing for women or men. Then the cloth was drawn with custom fabric motifs, then disirang or sewn by hand motif jarang-jarang/renggang follow. Fabrics that have been sewn, drawn thread stitching in order to tighten the seams, so tightly puckered fabric and cloth are ready to enter the next process.


         
Both the preparation of dyes, dye used is a dye for batik. All dye for batik can be used for dyeing cloth sasirangan. But dyes are commonly used today are naphtol dyes with salt. Other materials as a maid is caustic soda (NaOH), TRO / Sepritus, boiling hot water. At first the dye is taken in moderation, then diluted / made pasta by adding TRO / methylated, then stir until all dissolved / dissolved. After all the substances dissolved, then add a few drops of caustic soda and finally added with hot water and cold water as necessary. The solution should clear / clear. To dissolve the dye naphtol was considered finished and already can be used to dye cloth sasirangan.


        
To create the desired color, then it must be inflicted naphtol dyes / dipeksasi with salt. To dissolve the salts, taken in accordance with the purposes of hot water is then added gradually while stirring, stirring vigorously so that all dissolved substances and obtained a clear solution. The number of solutions tailored to the needs. Both the naphtol and salt solution can already be used to dye cloth sasirangan, ie by first applying / brushed naphtol dyes on fabric that has disirang who then added to again / salt solution is applied so that there will be color on fabric that has been smeared according sasirangan with the desired color. Once all the fabric dyed, fabric washed until the washing water is colorless again.


        
The cloth is clean, then released so that the seams are visible scar motifs among the colors that exist on the cloth. Up here sasirangan fabric-making process has been completed and dried salanjutnya ironed and ready to be marketed.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar